Tuesday, October 02, 2007

Peluang Nilai Tambah Rumput Laut Melalui Teknologi Kertas

Rumput Laut Sebagai Komoditi Bisnis

Rumput laut (Seaweeds) adalah termasuk kelompok macro algae. Jenis (Spesies) rumput laut sangat banyak lebih dari 7000 spesies tersebar diperairan tropis maupun subtropis, termasuk yang tumbuh diperairan laut Indonesia. Bahkan mungkin masih banyak yang belum teridentifikasi. Secara umum rumput laut atau ganggang dapat digolongkan menjadi empat kelas, yaitu :

1. Ganggang Merah (Rhodophyceae)
2. Ganggang Coklat (Phaeophyceae)
3. Ganggang Hijau (Chlorophyceae)
4. Ganggang Hijau - Biru (Cyanophyceae)

dari masing-masing kelas rumput laut tersebut memiliki keunggulan masing-masing dalam peruntukannya, tentu saja sesuai dengan jenis (Spesies) yang memiliki karakteristiknya masing-masing.

Bahkan baru-baru ini Dr. Ir. Grevo Gerung (Dosen/Peneliti dari Unsrat Manado) menemukan jenis rumput laut (Ptolophora sp) yang dapat dijadikan sebagai alternatif bahan baku pembuatan kertas. Meskipun teknologi pembuatan kertas dari rumput laut ini masih dalam skala penelitian, namun hal ini merupakan peluang bagi industri rumput laut di Indonesia.

Teknologi Pembuatan Kertas

Pada prinsipnya teknologi pembuatan kertas cukup sederhana, sebagaimana penemuan pertama bahan kertas oleh Ts'ai Lun Lun seorang pegawai negeri pada pengadilan kerajaan di tahun 105 M pada zaman kekaisaran Thiongkok Ho Ti (tercatat dalam sejarah resmi dinasti Han). Bahan utamanya adalah bambu yang dilumatkan menjadi bubur lalu dibentuk menjadi lembaran dan dipres kemudian dikeringkan hingga menjadi lembaran kertas.

Belajar dari cara pengolahan agar-agar kertas dari ekstrak rumput laut Glacillaria yang sudah lama berkembang menjadi salah satu usaha skala rumah tangga (small skill industry) secara turun-temurun di daerah Pameungpeuk-Garut-Jawa Barat. Cara pengolahan agar-agar kertas dari rumput laut ini sangatlah mudah dan sederhana. Ekstrak agar-agar diperoleh dengan cara merebus rumput laut dalam suasana asam (pH tertentu), lalu disaring. Hasil saringan (ekstrak) dinetralkan dan dijendalkan (dicetak) dalam loyang dengan penambahan unsur alkalin (KOH) Setelah menjendal dalam satu malam, agar-agar diiris sesuai dengan ketebalan yang diinginkan (0,5 cm), irisan dibungkus kain blacu, disusun berlapis dan dipres secara alami dengan pemberat batu selama 12 jam untuk mengeluarkan kandungan air hingga ketebalan irisan agar-agar mencapai 0,2-0,3 cm. Esok paginya dijemur sampai batas kekeringan yang diinginkan dan agar-agar sudah berbentuk kertas dengan ketebalan sekitar 0,1 cm.

Lain halnya dengan proses ekstraksi karaginan yang pada umumnya hanya dilakukan dalam skala industri. Ekstraksi dilakukan melalui perebusan (90-95 °C) dengan penambahan Ca(OH)2 atau NaOH selama 24 jam, kemudian dilakukan penyaringan sebanyak 2 (dua) kali, dijendalkan dengan penambahan isopropyl alcohol, dipres, dicuci dan dipres kembali lalu dikeringkan dengan menggunakan rotary dryer menjelang proses penepungan. Ampas sisa ekstraksi dibuang sebagai imbah (waste) atau hanya dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman saja. Teknologi pembuatan kertas dari rumput laut yang dikembangkan oleh Dr. Ir. Grevo Gerung dapat dijadikan sebagai suatu solusi dalam memanfaatkan limbah tersebut. Teknologi pembuatan kertas dari rumput laut tersebut tentunya tidak jauh berbeda dengan cara pengolahan agar-agar kertas.

Peluang Nilai Tambah

Pengertian (term) "nilai tambah" (value-added) dalam dunia usaha perikanan masih beragam dan hampir disejajarkan dengan margin antara harga pembelian bahan baku (raw material) dan produk akhir (end products), meskipun sebenarnya antara keduanya berbeda. Namun secara umum {general) dapat dilihat betapa besar perbedaan antara harga jual rumput laut kering dengan produk turunannya ataupun produk akhirnya.

Kajian singkat yang dilakukan oleh PT. Bank Ekspor Indonesia (BED pada tahun 2006 menunjukkan rata-rata komoditi rumput laut Indonesia di pasaran dunia terpaut pada harga 496 $US/ton. Harga rumput laut Indonesia termasuk yang paling murah jika dibandingkan dengan Negara eksportir lainnya, rumput laut Cina memiliki harga 1,943 $US/ton, rumput laut Korea 2,984 $US/ton, rumput laut Chile 680$US/ton. Kelemahan harga rumput laut Indonesia disebabkan oleh karena sebagian besar rumput laut kita diekspor dalam bentuk mentah (raw material), padahal value-added rumput laut mentah yang diolah memberikan premium yang sangat tinggi. Sebagai contoh, Cina dan Korea mengolah rumput laut menjadi bahan makanan dan supplemen mendapat apresiasi harga yang tinggi di Jepang. Keuntungan lain dari olahan rumput laut adalah pengenaan tarif yang lebih rendah, bahkan nol, dibanding dalam bentuk mentah yang dapat dikenakan tarif hingga 40% di Jepang.

Perkembangan ekspor rumput laut Indonesia pada tahun 1999 s.d. 2004 mengalami peningkatan rata-rata 10,21%. Tentu saja rumput laut yang diekspor tersebut masih dalam bentuk raw material dengan harga yangcukup memprihatinkan, pada hal disisi lain peluang value-added untuk olahan rumput laut cukup terbuka lebar. Revitalisasi rumput laut melalui kegiatan budidaya rumput laut secara besar-besaran yang sedang digalakkan, akan mampu meningkatkan kesejahteraan para pembudidayanya jika teknologi pengolahan (pasca panen) rumput laut dapat segera mungkin diwujudkan dalam dunia bisnis rumput laut Indonesia.

Sumber : Zaenal Muttaqin ( Buletin Pengolahan dan Pemasaran Perikanan Craby & Starky edisi Juli 2007 )
Diambil dari DKP

Monday, July 23, 2007

New Template: Blue Swamp 2.0

Perahu STKPI Blog is now wearing a new template called Blue Swamp. Admin had to change the template because the previous one was too dark and livid (Dark Silence theme), as Sunarti gave me the reason to change it. Well, this lay-out was made by Elenet M2 Designs and you can read its documentation here. Hey, pay your attention please, now we also have a new blog contributor. Go blogging!...

Sunday, March 25, 2007

Wisuda Angkatan Pertama STKPI

Sejumlah 34 mahasiswa/i angkatan pertama Sekolah Tinggi Kelautan dan Perikanan Indonesia (STKPI) secara resmi dinyatakan lulus dalam prosesi wisuda di Hotel Sahid, Sabtu (24/3) kemarin.

Seluruh wisudawan/wisudawati tersebut terdiri dari duapuluh mahasiswa/i jurusan Budidaya perairan (BDP) dan sepuluh mahasiswa/i jurusan Pengolahan Hasil Perikanan (PHP).

Event sebelumnya:

  • Wisuda angkatan pertama STKPI di Hotel Sahid, Medan, pada tanggal 24 Maret 2007.

  • Pelantikan pengurus IKAN MAS di Hotel Sahid, Medan, pada tanggal 24 Maret 2007.

  • Seminar Ikan Batak di Hotel Sahid, Medan, pada tanggal 24 Maret 2007.

  • Sidang KTI (ujian akhir) untuk mahasiswa/i Diploma Tiga Jurusan BDP dan Jurusan PHP, di Kampus STKPI pada tanggal 19 hingga 22 Februari 2007.



Updated 29/5/2007:

Dikutip dari http://www.isekolah.org/narkoba/detail.php3?itemid=h_1141349636

03 Maret 2006 ,08:33 WIB
Seminar Narkoba untuk Pelajar SLTA Deli Serdang Remaja Harus Sadari Dampak Penggunaan Narkoba

Lubuk Pakam, isekolah.org - Peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika dan psikotropika, merupakan masalah nasional bahkan internasional yang dapat menghancurkan masa depan suatu bangsa.

Untuk itu, diperlukan upaya konkrit dalam pemberantasannya, mengingat pengkonsumsi umumnya remaja generasi muda usia rentan yakni dari 16-35 tahun, kata Sekdakab Deli Serdang Ir H Djaili Azwar, MSi selaku ketua Badan Narkotika Kabupaten (BNK) pada seminar penyalahgunaan narkotika dan penyimpangan prilaku siswa yang digelar Sekolah Tinggi Kelautan dan Perikanan Indonesia (STKPI) di kampus STKPI kompleks kantor bupati Lubuk Pakam, Kamis (2/3).

Pemberantasannya tidak hanya merupakan tanggung jawab Polri semata, tetapi merupakan tugas dan tanggung jawab seluruh komponen masyarakat dalam kerja sama yang erat, lebih dini dan komprehensif dalam penindakan dan pencegahannya.

Sekdakab di depan 100 orang lebih peserta terdiri siswa SMA dan MAN dari Kecamatan Lubuk Pakam, Beringin, Galang, Tanjung Morawa dan Batang Kuis itu mengatakan, seminar yang digelar STKPI sangat tepat sekali dan sekaligus merupakan sosialisasi oleh BNK dalam pengenalan narkoba dan penanggulangan serta pencegahannya kepada siswa SLTA yang berada pada usia rentan itu.

Para remaja harus menyadari dampak penyalahgunaan narkoba dan psikotropika seperti dapat merubah kepribadian penggunanya, menimbulkan sifat masa bodoh hingga terhadap diri sendiri, menurunnya semangat kerja sampai bersikap seperti orang gila dan tak ragu untuk melanggar norma norma masyarakat, hukum, agama serta menyiksa diri sendiri.

Demikian pula terhadap keluarga, penggunanya tidak lagi menjaga sopan santun, melawan orangtua, melakukan kekerasan dalam keluarga, kurang menghargai harta yang ada di rumah, mencemarkan nama keluarga akibat ulah perbuatannya dan menghabiskan biaya yang cukup besar untuk perawatan dan pemulihannya.

Terhadap lingkungan, penggunanya tak segan segan lagi melakukan tindak pidana dan mengganggu ketertiban umum yang menimbulkan bahaya bagi ketenteraman dan keselamatan umum, pengunanya tidak pernah merasa menyesal apabila melakukan suatu kesalahan.

Sedang terhadap bangsa dan negara, akan rusaknya generasi muda pewaris bangsa yang seyogyanya akan menerima tongkat estafet kepemimpinan serta hilangnya rasa patriotisme, cinta dan kebanggaan terhadap bangsa dan negara yang pada gilirannya akan memudahkan bagi pihak lain mempengaruhinya untuk menghancurkan bangsa dan negara.

TERBEBANI

Jika penyalahgunaan narkoba di Indonesia diprediksi hanya 1 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 2,2 juta jiwa saja, untuk setiap penyalahgunanya dirawat selama enam bulan dengan biaya Rp 5 juta perbulan, hingga ekonomi nasional akan terbebani sekitar Rp 66 trilyun belum termasuk biaya sosial akibat putus sekolah, putus kerja dan hilangnya masa depan dari penyalahgunanya, itu bila penyalahgunanya diprediksi hanya 1 persen saja.

Untuk itu, masyarakat harus mengambil langkah proaktif untuk mengantisipasinya seperti memberi penyuluhan tentang bahaya narkoba kepada keluarga dan masyarakat, melaksanakan forum, seminar, diskusi yang dilanjutkan dengan kegiatan nyata, membantu pemerintah memberikan informasi tentang ada penyalahgunaan narkoba yang terjadi di lingkungannya.

Melakukan pengawasan terhadap lokasi rawan transaksi maupun penyalahgunaan narkoba dan melakukan penangkapan pada pengguna narkoba yang tertangkap tangan dengan menyerahkannya kepada Polri terdekat.

Membantu menangani dan menyelamatkan keluarga yang terlibat penyalahgunaan narkoba serta melakukan pemantauan terhadap pelaksanaan penanganan kasus narkoba mulai dari tingkat penyidikan, penuntutan hingga putusan pengadilan sebagai upaya kontrol masyarakat.

Korban penyalahgunaan narkoba dapat ditolong melalui rehabilitasi, agar korban dapat kembali, bekerja dan belajar ke lingkungannya, namun sampai saat ini pemerintah belum mampu melaksanakan kegiatan itu secara cuma cuma akibat kondisi perekonomian negara yang masih memprihatinkan, namun rehabilitasi dapat diikuti di pamar, siswi dan lembaga swasta lainnya.

Melihat dampak mengerikan akibat penyalahgunaan narkoba yang timbul terhadap penggunanya, mulai dilakukan penyuluhan paling tidak untuk keluarga hingga terciptanya Indonesia yang bebas narkoba pada tahun 2015, kata Sekdakab.

Peserta seminar juga mengikuti ceramah yang disampaikan Kasat Narkoba Polres Deli Serdang AKP B Siringoringo, SH, staf Dinas Dikjar Dhani dan psikolog Syarifah, S.Psi dari UMA Medan.

Presiden STKPI Erwin Ramadhani mengatakan, seminar digelar pihaknya sebagai kepedulian mahasiswa dalam upaya meminimalkan dan mencegah peredaran narkoba di kalangan pelajar, di mana kepada setiap peserta juga akan diberikan sertifikat serta buka buku tentang pengenalan, bahaya dan pencegahan penyalahgunaan narkoba, katanya.(anl)

Saturday, January 13, 2007

Seminar STKPI: Kelautan Dan Perikanan Di Masa Depan

Hari Kamis (11 Januari 2007) kemarin, mahasiswa/i STKPI mengadakan seminar di Kampus STKPI. Seminar ini bertemakan Kelautan Dan Perikanan Di Masa Depan dan dihadiri sejumlah pejabat beberapa instansi, guru-guru sekolah menengah, rekan-rekan mahasiswa se-Deli Serdang, dosen-dosen di lingkungan Kampus STKPI dan tentu saja mahasiswa/i STKPI. Acara yang seharusnya dimulai pukul 14.00 BBWI akhirnya dimulai pada pukul 15.30 BBWI dan berakhir pada pukul 19.00 BBWI. Hal ini dikarenakan cuaca buruk yang menyebabkan gangguan penerbangan yang membawa narasumber utama sekaligus Ketua STKPI dari Riau ke Medan, Bapak Prof. DR. H. Muchtar Ahmad, M.Sc.

Seperti biasa, tak ada seminar tanpa pembukaan atau kata sambutan. Kata sambutan pertama diberikan oleh rekan kami, Guntoro Pramadharno, ketua panitia (beliau ini sempat bicara padaku kalau dia sebenarnya kaget harus dipercayakan tugas mendadak sebagai ketua panitia seminar ini pada hari Senin lalu, namun ternyata dia sanggup membuat seminar ini berjalan baik, tentunya dengan koordinasi dengan rekan-rekan yang lain). Kata sambutan kedua diberikan oleh Presiden Mahasiswa, Erwin Ramadhani. Dan kata sambutan terakhir oleh Bapak Ir. Hasan Hutapea, seorang dosen STKPI yang juga bekerja di lingkungan Pemkab Deli serdang. Seminarpun dimulai setelah kata sambutan.

Seminar berlangsung dalam dua sesi. Seminar sesi pertama berjudul "Peluang dan Tantangan Dunia Perikanan Di Masa yang Akan Datang" diberikan oleh Bapak Suprapto Iris dengan moderator Bapak Tengku Amri S.Pi. Dari pemaparan beliau -yang seorang ahli di lapangan perikanan kelautan- kita mendapati bahwa potensi perikanan kelautan di Indonesia umumnya dan Sumatra Utara khususnya masih terkendala pada rendahnya kualitas dan juga kuantitas sumber daya manusia (SDM) yang selama ini mengelola potensi perikanan kelautan di Sumatra Utara. Di satu sisi, peluang dan besar dan sumber daya alam (SDA) yang melimpah di laut Indonesia, malah tidak berdampak langsung terhadap minat SDM yang benar-benar ahli di bidang maritim. Kebanyakan experts tersebut malah berminat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) daripada membangun dan mengembangkan masyarakat/komunitas maritim yang selama ini terpuruk dalam kondisi yang memprihatinkan. Lagi, sejak kebijakan pemerintah untuk menerapkan otonomi daerah (otda), kantor-kantor Dinas Perikanan Kelautan malah lebih banyak diisi oleh SDM yang tidak memahami dunia perikanan atau tepatnya SDM yang bukan atau tidak mendalami bidang perikanan kelautan sepanjang masa akademisnya. Pada pemaparan selanjutnya, Bapak Suprapto Iris juga menyatakan bahwa sebaiknya nelayan diberi fasilitas (sarana dan prasarana) untuk menunjang aktifitas maritimnya karena nelayan memang layak untuk mendapatkannya. Namun ada juga kendala untuk menerapkan hal ini, yaitu kultur/budaya nelayan yang bertendensi "berleha-leha" dan terkadang bersikap kontradiktif terhadap kebijakan pemerintah. Menyangkut keberadaan Kampus STKPI, hal ini dilatarbelakangi oleh kebijakan pemerintah era untuk mendirikan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), sehingga banyak daerah ikut mendirikan berbagai sekolah maritim (kelautan dan perikanan). Namun yang menjadi kendala adalah kesiapan pemerintah daerah dalam membekali siswa (mahasiswa) untuk terjun langsung ke lapangan kerja. Dan beliau berharap, sebaiknya (seandainya) Pemerintah Kabupaten Deli Serdang mau mendukung STKPI dalam tindakan nyata (dukungan sarana dan prasarana) maka Kampus STKPI akan berkembang jauh lebih baik untuk memajukan, memanfaatkan, dan mengoptimalkan potensi perikanan dan kelautan di daerah Deli Serdang. Pemaparan (presentasi) beliau mendapat banyak respon dari mahasiswa dan undangan, terutama pernyataan mengenai kultur/budaya nelayan (ada yang berkesan bagi kami yaitu respon dari seorang guru olahraga yang masih muda dari SMU Trisakti, Bu Rumondang, yang tak lain adalah kakak kandung dari mantan rekan mahasiswa yang masih bersahabat baik dengan kami, Indah Nieca Sibarani).

Seminar kedua berlangsung pada pukul 18.00 BBWI yang dipresentasikan oleh Bapak Prof. DR. H. Muchtar Ahmad, M.Sc. dengan moderator -Dosen STKPI- Bapak Martono S.Pi dari Balai Karantina Polonia, Medan. Inti dari presentasi beliau adalah perlunya diadakan modernisasi dan perbaikan di segala lini pemanfaatan potensi perikanan dan kelautan. Hal ini perlu dilakukan mengingat saat ini diperlukan lebih banyak SDM yang berkualitas dan mampu menguasai teknologi dan standar mutakhir dalam bidang maritim.

Catatan: Seminar ini adalah seminar pertama yang diadakan secara keseluruhan oleh mahasiswa/i STKPI dari seluruh tingkatan. Mulai dari angkatan pertama hingga angkatan terakhir (2006/2007). Secara keseluruhan seminar ini berlangsung baik, lancar dan berkesan bagi kita semua. Terimakasih untuk rekan-rekan mahasiswa atas kerjasama dan koordinasi yang baik. Kita sangat berharap agar pernyataan Bapak Ketua STKPI dapat direalisasikan segera bagi angkatan pertama yang akan segera menyelesaikan studi D3-nya.